Kamis, 07 Agustus 2014

karunia ilahi

saat kutulis lembaran cerita ku ini lantunan merdu nasyid yang kudapat dari unduhan semalam tengah menemani dengan syair-syair merdu berjudul karunia ilahi, entah mengapa kadang kurasa tak pantas lagi mengadu bersimpuh pada pemilik langit juga bumi yang santer teragung ilahi, kemunafikan memenuhi hati dan kepalsuan sikap diri, benar-benar tak pantas juga tak terpuji, sembari menatap pantulan hina diri di depan sang pemantul diri, kuresapi makna juga arti dari kehidupan yang sungguh hanya sesaat ini, kadang bahkan lebih dari itu sering kali kusadari bahwa tiada arti kehidupan di dunia ini, hanya kepalsuan, kebohongan yag dipenuhi kesenangan sesaat, kebahagiaan semu, hanya saja naif diri selalu menang menutupi kata hati, entahlah hingga kapan semua kan bertemu ujung penantian, sebuah jawaban atas kebimbangan dan pertanyan yang memenuhi pikiran, hati, dan nalar yang tak panjang, sore ini tepat disamping jendela kamar yang samar menyelinapkan sinar mentari senja yang kian temaram ditelan dominasi bulan yang mulai menampakan jati diri, kurenungi hidup lewat tulisan yang tak kunjung menuju pada kebaikan, empat tahun yang kulewati hampir sia-sia minim prestasi, teringat kembali tujuan hidup yang ingin mengantarkan banyak cita banyak mimpi yang kurasa kian lama kian semu, mengabur bersama aurora langit sore yang mulai kembali diperaduan.disini, disudut kamar yang membawaku menjalani hari-hari sulit sarat makna selama 3 tahun terakhir, kucoba tuk merunut kembali betapa tak berhingga balas dari sang pencipta atas begitu banyak salah dan dosa yang selalu dan terus saja aku buat, tak habis pikirku dibuatnya, aku tahu kini itulah mengapa Engkau menjadi yang maha mengatur segala kebaikan dalam hidup. hidupku, hidup mereka, dan hidup kami semua. Engkau yang senantiasa memberi dan terus memberi pada kami yang tak pernah tahu membalas budi, Engkau yang terus memanjakan kami padahal jelas-jelas kami tak tahu diri, Engkau yang terus saja menunjuki kami jalan kepadamu yang penuh cahaya dengan segala nikmat dan keutamaanya. Engkau yang bahkan secara mustahil menurut akal pendek kami setiap detik terus menyayangi kami, memberi apapun yang berharga tanpa mampu kami meminta setiap detailnya, Engkau yang terus saja begitu murahnya memberi kami tameng, sebuah perlindungan terkuat atas aib-aib dan keburukan yang mungkin menghancurkan kami. Engkau yang selalu memberi teguran saat kami menyimpang, engkau yang memberi peringatan saat kami terus mencoba melakukan pembangkangan. engkau yang dengan semua sifat muliaMu terus saja mengawasi dan mencatat tingkah buruk kami dengan tak melewatkan satupun catatan kecil kebaikan kami, Engkau yang tak miliki celah untuk menjadi salah sebagaimana kami yang Engkau cipta,Engkau yang begitu sempurna, selalu sempurna, senantiasa sempurna, tanpa selisih, tanpa syarat. sehingga manalah mungkin ada sekat ragu atas kuasaMu sebagai Tuhanku, Tuhan sekalian alam. wajar bila yang maha maha mungkin saja belum lah cukup disandingkan sebagai gelarMu, Kau yang Maha agung melebihi apapun yang pernah agung di muka bumi ini, karuniaMu yang tak pernah terputus kepada kami, sampai kapanpun bahkan sampai nafas ini tak lagi kau kenankan untuk mengaliri tenggorokan ini, tentulah karuniaMu tak sedikitpun dapat terbalas oleh kami, tak sepantasnya aku begini, menelantarkan begitu banyak tugas dan tanggung jawab hidup, lari dari begitu banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan, pantas saja tak kau beri aku beban yang berat menurut ukuranku yang senantiasa khilaf diri ini, engkau yang tanpa celah, tak tahu lagi bagaimana aku harus bersikap, hanya rasa syukur semu yang mejadi andalan diri, bawa aku pada kesadaran diri yang paling paripurna, hanya kau dan usahaku kusadar yang mampu memberikan perubahan untuk kekacauan hidup yang dibuat sendiri olehku, bahkan bila harus begitu sakit harus kan kutempuh untuk perubahan diri. sesaat kutatap langit yang mulai berarak menggiring wajah sang gelap dibalik jendela kamarku yang berdebu, kulihat jalan hidup yang tak lagi panjang, waktu yang begitu singkat, tak lagi kumiliki waktu yang banyak, untuk berkarya, bekerja dan memberi manfaat, apapun itu kuyakin rencanamu adalah ridho dari ibuku, kan kujalani meski itu sulit bagiku, kan kutempuh meski itu berat pastinya nanti, karena dengan karuniamu kurasa cukup bekalku, semua yang kubutuhkan untuk mencapai segala sesuatu, dengan itu kurasa mampu, mengejar janji diri yang dulunya semu, dengan itu pastilah mungkin, dengan itu, pastilah mampu, itu yang selalu kau beri pada kami, karunia ilahi.